Prompt, Context, PRD, dan Acceptance Criteria
Tulis prompt yang dapat dieksekusi, pilih context yang relevan, dan ubah ide menjadi requirement yang dapat diuji.
Daftar isi
Prompt yang baik bukan mantra. Ia adalah instruksi kerja yang membuat outcome, sumber kebenaran, batas perubahan, dan bukti selesai dapat dipahami. Untuk project besar, prompt tidak menggantikan PRD atau repository instructions.
1. Bedakan Prompt, Context, dan Instruction
Prompt adalah permintaan untuk task saat ini. Context adalah informasi yang membantu model menyelesaikan task, misalnya file, screenshot, log, diff, requirement, dan keputusan sebelumnya. Instruction adalah aturan yang harus diikuti, seperti batas permission, stack yang tidak boleh diganti, atau command verifikasi.
Semua context memakai ruang token. Context yang banyak belum tentu context yang baik. Berikan file paling relevan dan tunjukkan source of truth. Jangan mengirim seluruh repository jika task hanya menyentuh satu form dan satu API route.
2. Tulis Outcome yang Dapat Diamati
Mulai dari hasil yang dapat diperiksa:
Tambahkan validasi email pada form registrasi.
Selesai ketika:
- email kosong menampilkan pesan wajib diisi;
- format tidak valid ditolak sebelum request;
- error server tetap tampil secara terpisah;
- test form dan typecheck lulus.Kalimat seperti "buat lebih bagus" atau "perbaiki semuanya" tidak menetapkan kondisi selesai. Outcome harus menjelaskan perubahan perilaku, bukan hanya file yang harus diedit.
3. Gunakan Struktur KONTRAK
Untuk task yang tidak sepele, susun prompt dengan urutan berikut:
| Bagian | Pertanyaan |
|---|---|
| Konteks | Apa yang sedang terjadi dan mengapa task dibutuhkan? |
| Outcome | Perilaku apa yang harus berubah? |
| Non-goals | Apa yang sengaja tidak dikerjakan? |
| Technical rules | Stack, pola, dan batas keamanan apa yang harus dipatuhi? |
| Repository evidence | File dan dokumen mana yang menjadi sumber kebenaran? |
| Acceptance | Bagaimana manusia membuktikan hasilnya benar? |
| Checks | Command atau pemeriksaan apa yang wajib dijalankan? |
Tambahkan stop condition: agent harus berhenti jika source of truth konflik, credential diperlukan, migration berisiko destruktif, atau perubahan harus meluas ke luar scope.
4. Pisahkan Stable Rules dari Task Prompt
Aturan stabil seperti package manager, command lint, larangan menyentuh migration lama, dan definition of done layak berada di AGENTS.md atau file instruction resmi tool. Detail sementara seperti bug tertentu, screenshot hari ini, dan acceptance criteria task tetap berada di prompt atau plan.
Jangan menyimpan secret di keduanya. Nama file instruction dan cara discovery berbeda antar coding tool. Arahkan agent untuk membaca file tertentu ketika discovery otomatis tidak pasti.
5. Buat PRD Minimum
PRD menjelaskan produk atau fitur lintas task. Untuk project pemula, bagian minimum adalah:
# Product Requirements Document
## Product Summary
## Target Users
## MVP Scope
## Non-Goals
## Main User Flows
## Business Rules
## Data
## Authentication and Authorization
## UI States
## Technical Constraints
## Acceptance Criteria
## Open DecisionsNon-goals mencegah scope creep. Open decisions mencegah agent menebak keputusan produk yang belum dibuat. PRD tidak perlu panjang, tetapi setiap aturan penting harus konsisten dan dapat ditelusuri.
6. Tulis Acceptance Criteria yang Dapat Diuji
Acceptance criteria harus spesifik terhadap perilaku. Untuk UI, sertakan state loading, empty, populated, error, validation, disabled, dan permission-limited bila relevan. Sertakan desktop dan smartphone jika layout berubah.
Untuk data dan API, jelaskan siapa yang boleh membaca atau menulis, bagaimana tenant atau user diisolasi, respons untuk input tidak valid, serta apakah operasi bersifat idempotent. "Berfungsi dengan baik" bukan acceptance criteria.
7. Gunakan Screenshot dengan Arahan
Gambar adalah context, bukan instruksi lengkap. Jelaskan bagian mana yang dipertahankan:
Gunakan screenshot sebagai referensi hierarchy, bukan sebagai asset production.
Pertahankan sidebar, page header, filter bar, data table, dan detail drawer.
Gunakan token dan component existing.
Jangan menyalin logo, brand, atau isi data pada screenshot.Gunakan kosakata UI yang tepat. Pelajari Anatomi Website agar prompt dapat menyebut navbar, hero, CTA, card, modal, drawer, dan state tanpa ambigu.
8. Plan Dulu untuk Task Besar
Pisahkan pekerjaan besar menjadi dua tahap. Prompt pertama meminta audit dan implementation plan tanpa perubahan. Setelah manusia meninjau asumsi, prompt berikutnya memberi izin implementasi dengan scope yang disepakati.
Setelah implementasi, minta ringkasan file yang berubah, command yang dijalankan, hasil test, risiko tersisa, dan langkah manual yang masih diperlukan. Tetap baca diff sendiri.
9. Checklist Prompt Berkualitas
- Outcome dapat diamati oleh manusia.
- Source of truth disebutkan dengan jelas.
- Scope dan non-goals terpisah.
- Permission dan security boundary dinyatakan.
- Acceptance criteria mencakup state penting.
- Verification command tersedia.
- Tidak ada secret atau data pribadi.
- Stop condition mencegah agent menebak keputusan penting.
Sumber resmi dan referensi
Gunakan sumber berikut untuk memeriksa command, fitur, pricing, atau limit terbaru.
Apakah panduan ini membantu?
Beritahu kami bila langkahnya berhasil atau ada informasi yang perlu diperbarui.